19 November 2022 - 15:43
Ayatullah Ramezani Nasehatkan Santri Pelajari Agama secara Komprehensif dan Akurat

Ayatullah Ramezani mengingatkan tentang harapan masyarakat terhadap santri. Ia berkata, “Masyarakat mengharapkan santri dapat belajar agama dengan baik dan mengajar dengan benar dan komprehensif. "

Menurut Kantor Berita ABNA, Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahlulbait as Ayatullah Reza Ramezani hadir dalam pertemuan santri baru provinsi Gilan pada hari Kamis, (10/11) di kompleks Narjes Khatun di Qom, Republik Islam Iran.

Dalam pertemuan tersebut, Ayatullah Reza Ramezani menyampaikan pesannya kepada para santri, “Melayani agama adalah suatu kehormatan besar dan Anda harus mensyukuri ini sebagai keberkahan Ilahi. Dengan cara ini, cobalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kecintaan Anda terhadap Imam Zaman afs, karena semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, semakin banyak cintanya. Kita juga harus tahu apa yang Imam Zaman afs harapkan dari kita dalam perjalanan ini.” 

Wakil rakyat Propinsi Gilan dalam Majelis Ahli lebih lanjut mengatakan tentang tugas para santri, “Berdasarkan ayat dan hadits, tugas pertama kita adalah memahami agama dan kita harus mempelajari ilmu agama secara mendalam. Mari kenali agama, meyakini sepenuhnya dan menjadi orang yang religius. Imam Shadiq as mengatakan, ”Barangsiapa belajar ilmu karena Allah, mengamalkannya untuk Allah, dan mengajarkan kepada orang lain untuk Allah, maka kelak akan mendapat derajat dan kedudukan yang tinggi di surga.”

Dalam penjelasan lebih lanjut Ayatullah Ramezani mengatakan, “Perlunya mempelajari agama secara cermat, menyeluruh dan mendalam. Jika agama dianggap akurat, komprehensif dan mendalam, kita bisa mengajarkannya dengan lebih baik. Karena itu, pertama-tama, pengajaran dan pembelajaran kita harus benar, dan jika pengajaran kita benar, maka pengajaran itu akan benar. Begitupun, jika kita belajar dan mengamalkan agama demi Allah, maka yang kita dapatkan bersifat Ilahiah.”

Selanjutnya Ayatullah Ramezani menyebutkan Islam sebagai agama komplit dan komprehensif. Ia berkata, “Agama Islam itu komprehensif, mengajarkan kita tugas individu dan tanggung jawab sosial, jadi kita harus terbiasa dengan tanggung jawab individu dan sosial.”

Pengajar di Hauzah Ilmiah ini juga menyatakan bahwa jika santri beradab dan penuh akhlak, maka dia akan membuat masyarakat juga beradab dan berakhlak. “Salah seorang ulama mengatakan bahwa kita memiliki tiga jenis akhlak, akhlak kepada diri sendiri, kepada orang lain dan kepada Allah. Akhlak kepada Allah Swt, berarti bahwa kita harus mempertimbangkan kedudukan diri kita sendiri di hadapan Tuhan dan berperilaku sebagaimana akhlak yang Allah ingin dengan tidak sembrono menggunakan mata, telinga dan lidah kita. Juga, ilmu yang kita ajarkan tidak boleh melahirkan kesombongan. Dalam hal hasil dari proses pendidikan, bisa dikatakan ada tiga tahapan yang dilewati peserta didik, yaitu tahap pertama adalah kesombongan. Beberapa orang mempelajari sesuatu yang itu bisa membuatnya sombong. Tahap kedua adalah kerendahan hati, dan tahap ketiga, seseorang memahami bahwa pada hakikatnya banyak yang tidak diketahuinya.”

Ayatullah Ramezani kemudian mengatakan tentang nilai bertindak berdasarkan pengetahuan, “Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as mengatakan bahwa pengetahuan terendah adalah yang tetap dalam kata-kata dan tidak mencapai tahap tindakan. Tetapi ilmu yang paling baik adalah yang berdampak pada mata, tangan, kaki, anggota tubuh dan perhiasan seseorang dan berpengaruh pada semua tindakan dan pikirannya.”

Ayatullah Ramezani mengingatkan tentang harapan masyarakat terhadap santri. Ia berkata, “Masyarakat mengharapkan santri dapat belajar agama dengan baik dan mengajar dengan benar dan komprehensif. Dalam hal ini, penting untuk memperhatikan adat dan tradisi lokal di tempat berdakwah dan tradisi tersebut perlu dilestarikan dan dilanjutkan. Tradisi hauzah seperti diskusi, pra-studi, pasca-studi, menghormati pelajaran dan guru, menghadiri pelajaran sebelum guru, dll. harus dipertimbangkan untuk terus dikembangkan dan dilestarikan di lingkungan hauzah.”

Mengenai pentingnya mempelajari etika, beliau mengatakan, “Etika tidak mengenal usia karena etika menentukan jalan seseorang dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, kita harus menerapkan dakwah akhlak dalam diri kita terlebih dahulu, karena bisa jadi sebagian orang adalah guru yang baik, tetapi bukan guru yang beretika.”

Wakil rakyat provinsi Gilan dalam majelis ahli tentang pentingnya ilmu pengetahuan, mengatakan, “Ilmu adalah kehidupan kalbu dan memberikan kedamaian bagi manusia. Nabi Muhammad saw mengatakan: "Ilmu adalah kehidupan hati dari ketidaktahuan. Ilmu adalah kehidupan hati dari kebodohan. Jika hati menjadi hidup, seseorang akan melihat dengan terang dan segalanya akan menjadi jelas baginya.”

Pada bagian lain penyampaiannya, Ayatullah Ramezani menyinggung kebutuhan Barat akan ilmu agama. Ia berkata, “ Barat haus akan ilmu Ahlulbait as, asalkan kita akrab dengan bahasa dan tradisi mereka lalu kemudian mengajarkan dan memperkenalkan ilmu Ahlulbait as dari apa yang mereka senangi niscaya dakwah Islam bisa mereka terima dengan baik. Imam Ridha as berkata,"Jika orang tahu keindahan kata-kata kita, mereka akan mengikuti kita.” Karena itu, jika kita menyampaikan keindahan Ahlulbait as kepada orang-orang, maka kita akan masuk dalam bagian orang yang didoakan oleh Imam Ridha as, yaitu, Semoga Allah mengampuni hamba yang menghidupkan kembali perintah kami. Oleh karena itu, perlu menghidupkan kembali ajaran Ahlulbait as untuk mempelajari agama dengan benar dan mengajarkannya dengan benar.”

Pada akhirnya, Ayatullah Ramezani mengatakan tentang faktor-faktor kebahagiaan manusia. “Tawakkal, tawassul dan tadabur adalah faktor-faktor kebahagiaan manusia. Ayatullah Sayid Ali Khamanei mengingatkan para pemuda agar senantiasa belajar, mensucikan jiwa dan berolahraga.”